Minggu, 30 September 2012

Telapak Kaki di Pasir



Tadi malam saya bermimpi berjalan-jalan di pinggir pantai bersama dengan Tuhan. Sementara di langit terpapar layar raksasa yang menayangkan rentetan perjalanan hidup saya sejak kecil.  Secara berurutan, satu demi satu episode kehidupanku ditayangkan. Mengiringi setiap adegan selalu terlihat dua pasang telapak kaki di pasir pantai. Yang sepasang adalah kaki saya, sepasang lainnya adalah “telapak kaki” Tuhan yang selalu menyertaiku.

Bak tersihir, mata ini tak berkedip memandang layar. Anehnya, setiap kali layar menayangkan masa-masa sulit, yang terlihat hanya sepasang kaki saja.

“Ya Tuhan, bukankah ketika saya memutuskan untuk ikut denganMu, Kau akan selalu menyertai hidupku. Tapi justru di saat saya menderita dan terjerat kesulitan, mengapa Tuhan meninggalkanku ? Buktinya yang terlihat di pasir hanya sepasang telapak kaki ?” Saya bertanya kepada Tuhan.

“Anakku, Aku selalu mengasihi kamu. Aku takkan pernah meninggalkanmu sendirian. Saat kamu menderita atau sedang jatuh dalam kesulitan, memang hanya terlihat sepasang kaki saja. Ketahuilah, itu adalah kakiKu karena saat itu Aku sedang menggendongmu.”

“Hidup ini begitu “constructed” sehingga sebuah kejadian kecil pun tidak bisa, tidak akan bisa, tak pernah bisa sesuai dengan kehendak kita”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar