Minggu, 30 September 2012

P e r c a y a



Hujan deras tanpa henti selalu membawa petaka. 
Itulah yang terjadi. Tak kuat menahan beban akhirnya waduk yang berada di atas lembah jebol. Airnya membanjiri desa di bawahnya. 

Hanya dalam hitungan menit, rumah-rumah di sekitarnya sudah terendam air. Palang Merah segera mengirimkan team penyelamat. Dengan perahu karet, regu penolong menghampiri sebuah rumah. 
Seorang pria terlihat berdiri di jendela.
“Ayo, cepatlah naik ke perahu ! Empat menit lagi desa ini akan tenggelam,” ujar regu penolong. Di luar dugaan, pria tersebut hanya tersenyum, “Tidak, pergilah. Saya percayakan semuanya kepada Tuhan,” ujarnya. 
Regu penolong itupun pergi mencari korban lain.

Dua menit kemudian, datanglah regu penolong lain memakai speedboat. 
Sang pria kini sudah berdiri di atas genteng rumahnya. “Ayolah, loncat ke perahu !” ujar seorang regu penolong. Dua menit lagi desa ini akan tenggelam.” 
Lagi-lagi, pria tersebut hanya menggelengkan kepala. “Tidak. Pergilah, saya percaya Tuhan pasti menolongku.” 
Regu penolong itupun kemudian berlalu.

Kemudian, datang helikopter penolong. Saat itu sang pria sudah berdiri di atas cerobong asap. Rumahnya sudah benar-benar terendam air. 
Salah seorang dari helikopter itu segera menurunkan seutas tali. “Cepatlah naik, tangkap talinya,” teriaknya. “Beberapa detik lagi desa ini akan hilang.”
“Tidak, pergilah,” teriak si pria. “Saya sudah percayakan ini kepada pertolongan Tuhan.” 
Helikopter itupun segera pergi.

Beberapa menit kemudian, pria tersebut sudah mendapatkan dirinya di pintu surga. 
Dia tewas tenggelam. “Apa yang terjadi, mengapa saya berada di sini ?” Ia berteriak seakan memarahi Tuhan.

Jawaban yang didapatnya, “Saya sudah mengirimkan perahu karet, speedboat, dan helikopter. Apa yang sebenarnya kau inginkan ?”

“Tuhan bekerja melalui semua yang ada di sekitar kita, sekecil apapun itu, itulah karya Tuhan untuk kita”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar