Hari itu
panas. Duduk di sebuah depot pangsit kuah, aku mengamati Bapak tukang sampah
yang lagi mengambil sampah di parkiran depot.
Ada sesuatu
di dirinya yang mengambil perhatianku. Mungkin karena dia terlihat tua dan
lelah.
Setelah
beberapa waktu dia mengais sampah, dia berjalan ke arah meja kasir yang
terletak di batas parkiran dan depot, dia diam sesaat, dia terlihat tidak
begitu percaya diri, lalu dia berkata : ‘ Es teh manis…… satu es teh manis…”
Dia lalu
melepas sandalnya di teras warung, masuk dan duduk di meja belakangku.
Aku makan
sambil mengamati sekeliling. Semua orang makan dan minum. Semua orang
mengenakan sandal. Kecuali Bapak di belakangku.
Aku
berdiskusi dengan diriku bagaimana apakah sebaiknya aku membelikannya makan
atau bagaimana.
Bapak tua itu
terlihat santai meminum es tehnya sambil mengisap sebatang rokok.
Tak lama dia
bangun, berjalan ke kasir dan bertanya “Berapa ?” Dia memberikan uang dan
mengenakan sandalnya lalu pergi meraih handel gerobak dan menariknya.
Dalam
sepenggal pertemuan dengannya dia berbicara tanpa kata kepada saya tentang
perjuangan, tentang kehormatan, tentang hidup.
Saya pun
segera membayar pangsit kuah saya dan pergi menyusulnya. Saat saya bersisian
dengannya, saya mengeluarkan uang dan memberikan padanya…”Pak, ini untuk
tambahan”
Dia diam
sesaat, menerimanya dan berkata “Terima kasih” lalu melanjutkan menarik gerobak
sampahnya.
Saya lalu
pergi melanjutkan perjalanan saya…. “Syukuri apa yang ada, hidup adalah
anugerah. Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik”
Ada saat
mungkin kita terlihat atau merasa kecil dan tidak percaya diri. Namun seperti
Bapak itu, punyalah keberanian untuk tetap mengayunkan langkah menjalani hidup
sebagai pribadi yang terhormat karena setiap kita sama berharganya di mata
Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar