Seorang Ibu kebingungan ketika malam itu dokter
memberitahu lewat telepon, suaminya terkena serangan jantung serius selagi
menjalani pemeriksaan kesehatan.
Tanpa pikir panjang, bahkan gagang teleponnya
pun belum ditutup, ia meluncur ke rumah sakit. Si Ibu mencoba untuk tidak
berprasangka buruk, namun begitu sampai di kamar rawat sang suami, ia begitu
emosional.
Berbagai macam selang infus, alat-alat medis yang besar, serta layar
monitor dengan tampilan garis-garis yang meliuk-liuk, tampak mengitari tubuh
suaminya yang terbujur tak berdaya, “Apa yang terjadi ?” teriaknya panik.
“Terkena stroke,” ujar seorang perawat lirih.
“Sekarang ia mulai stabil, namun masih belum bisa bereaksi.”
Sambil menahan gemetar, si Ibu berjongkok di sisi
ranjang dan memegang erat tangan suaminya.
“Sayang, kami amat mencintaimu,”
bisiknya, sambil meletakkan telapak tangan si sakit di keningnya. Ia berdoa,
memohon agar suaminya cepat sembuh.
“Ibu, apa yang anda lakukan di sini?” seorang dokter
bertanya dari pintu kamar.
Bawel amat dokter ini, pikir si Ibu.
“Tidakkah dokter lihat ? Saya sedang berdoa untuk
suami saya,” jawabnya.
“Ya, tapi suami Ibu ada di kamar sebelah.”
Ternyata lantaran panik dan emosional, si Ibu
salah masuk kamar. “Oh, Tuhan, betapa bodohnya aku ! Semoga pria malang ini
tidak terganggu,” katanya sambil berlalu dari kamar tersebut.
“Dia belum sadar.
Barangkali dia tidak mendengar apa yang anda katakan,” hibur si dokter.
Hari berikutnya, ketika si Ibu membesuk suaminya,
ranjang di kamar sebelah terlihat kosong. “Apa yang terjadi dengan pasien di
sebelah?”
“Kemarin ia siuman sesaat setelah anda pergi,”
ujar sang dokter.
“Dalam perawatan lanjutan, kondisinya terus membaik. Menurut
pengakuannya kemarin ia didatangi malaikat, yang membisikkan kepadanya agar
segera sembuh.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar