Minggu, 30 September 2012

Banyak Nyamuk di Rumahku..... *gara2 aku...lupa bersih2



Apakah betul nyamuk suka warna gelap ?

Hmmmmm……  Konon nyamuk  tidak mampu melihat dengan baik. 
Tetapi kenapa nyamuk suka beterbangan di atas rambut, itu karena nyamuk mempunyai antenna reseptor panas yang sangat baik.

Antenanya mampu membedakan panas yang dipancarkan oleh berbagai benda. Panas yang dipancarkan benda akan menarik nyamuk datang. Benda-benda gelap biasanya mudah menyerap panas, tetapi juga mudah memancarkan panas yang akan menarik nyamuk datang.

Mungkin ini salah satu sebab kenapa nyamuk suka rambut atau pakaian yang gelap. Disamping panas tubuh manusia, nyamuk juga tertarik pada gas karbondioksida dan bau-bau tertentu tang dihasilkan oleh bakteri yang hidup di kulit kita. 
Hal ini juga bisa menyebabkan orang-orang tertentu  lebih sering diserang nyamuk….. terutama orang-orang yang malas mandi hehehehe……

Semoga bermanfaat, indahnya berbagi ……

Dibesuk Malaikat



Seorang Ibu kebingungan ketika malam itu dokter memberitahu lewat telepon, suaminya terkena serangan jantung serius selagi menjalani pemeriksaan kesehatan. 
Tanpa pikir panjang, bahkan gagang teleponnya pun belum ditutup, ia meluncur ke rumah sakit. Si Ibu mencoba untuk tidak berprasangka buruk, namun begitu sampai di kamar rawat sang suami, ia begitu emosional. 

Berbagai macam selang infus, alat-alat medis yang besar, serta layar monitor dengan tampilan garis-garis yang meliuk-liuk, tampak mengitari tubuh suaminya yang terbujur tak berdaya, “Apa yang terjadi ?” teriaknya panik.
“Terkena stroke,” ujar seorang perawat lirih. “Sekarang ia mulai stabil, namun masih belum bisa bereaksi.”

Sambil menahan gemetar, si Ibu berjongkok di sisi ranjang dan memegang erat tangan suaminya. 
“Sayang, kami amat mencintaimu,” bisiknya, sambil meletakkan telapak tangan si sakit di keningnya. Ia berdoa, memohon agar suaminya cepat sembuh.
“Ibu, apa yang anda lakukan di sini?” seorang dokter bertanya dari pintu kamar. 

Bawel amat dokter ini, pikir si Ibu.
“Tidakkah dokter lihat ? Saya sedang berdoa untuk suami saya,” jawabnya.
“Ya, tapi suami Ibu ada di kamar sebelah.”

Ternyata lantaran panik dan emosional, si Ibu salah masuk kamar. “Oh, Tuhan, betapa bodohnya aku ! Semoga pria malang ini tidak terganggu,” katanya sambil berlalu dari kamar tersebut. 
“Dia belum sadar. Barangkali dia tidak mendengar apa yang anda katakan,” hibur si dokter.

Hari berikutnya, ketika si Ibu membesuk suaminya, ranjang di kamar sebelah terlihat kosong. “Apa yang terjadi dengan pasien di sebelah?”

“Kemarin ia siuman sesaat setelah anda pergi,” ujar sang dokter. 
“Dalam perawatan lanjutan, kondisinya terus membaik. Menurut pengakuannya kemarin ia didatangi malaikat, yang membisikkan kepadanya agar segera sembuh.”


P e r c a y a



Hujan deras tanpa henti selalu membawa petaka. 
Itulah yang terjadi. Tak kuat menahan beban akhirnya waduk yang berada di atas lembah jebol. Airnya membanjiri desa di bawahnya. 

Hanya dalam hitungan menit, rumah-rumah di sekitarnya sudah terendam air. Palang Merah segera mengirimkan team penyelamat. Dengan perahu karet, regu penolong menghampiri sebuah rumah. 
Seorang pria terlihat berdiri di jendela.
“Ayo, cepatlah naik ke perahu ! Empat menit lagi desa ini akan tenggelam,” ujar regu penolong. Di luar dugaan, pria tersebut hanya tersenyum, “Tidak, pergilah. Saya percayakan semuanya kepada Tuhan,” ujarnya. 
Regu penolong itupun pergi mencari korban lain.

Dua menit kemudian, datanglah regu penolong lain memakai speedboat. 
Sang pria kini sudah berdiri di atas genteng rumahnya. “Ayolah, loncat ke perahu !” ujar seorang regu penolong. Dua menit lagi desa ini akan tenggelam.” 
Lagi-lagi, pria tersebut hanya menggelengkan kepala. “Tidak. Pergilah, saya percaya Tuhan pasti menolongku.” 
Regu penolong itupun kemudian berlalu.

Kemudian, datang helikopter penolong. Saat itu sang pria sudah berdiri di atas cerobong asap. Rumahnya sudah benar-benar terendam air. 
Salah seorang dari helikopter itu segera menurunkan seutas tali. “Cepatlah naik, tangkap talinya,” teriaknya. “Beberapa detik lagi desa ini akan hilang.”
“Tidak, pergilah,” teriak si pria. “Saya sudah percayakan ini kepada pertolongan Tuhan.” 
Helikopter itupun segera pergi.

Beberapa menit kemudian, pria tersebut sudah mendapatkan dirinya di pintu surga. 
Dia tewas tenggelam. “Apa yang terjadi, mengapa saya berada di sini ?” Ia berteriak seakan memarahi Tuhan.

Jawaban yang didapatnya, “Saya sudah mengirimkan perahu karet, speedboat, dan helikopter. Apa yang sebenarnya kau inginkan ?”

“Tuhan bekerja melalui semua yang ada di sekitar kita, sekecil apapun itu, itulah karya Tuhan untuk kita”

Cermin Diri





Alkisah, ada seorang pria kaya raya berpesan kepada pembantunya, “Aku akan pergi ke luar negeri selama setahun untuk urusan bisnis. Selama kepergianku aku minta kau membangun sebuah rumah. Pilihan bentuk dan desainnya sesuai kehendakmu. Besar atau kecilnya terserah kau. Ini aku beri uang untuk membeli bahan bangunan, ongkos tukang serta gajimu selama membangun rumah itu.”

Seminggu kemudian, berangkatlah sang majikan ke luar negeri. Alangkah senangnya si pembantu mendapat proyek basah. Seumur-umur  ia belum pernah mengelola uang sebesar ini. Otak liciknya segera berputar. Selama mengerjakan tugas, si pembantu menggelapkan nilai proyek. Caranya, mark up sana, sunat sini. Ia memakai material yang sepintas tampak bagus padahal kualitasnya jelek. Toh, nantinya pada saat rumah ini mulai rusak ia pasti tak lagi bekerja di sini. Begitu pikirnya.

Setahun kemudian sang majikan pulang. 
Ia menanyakan rumah baru tersebut.
“Beres Tuan ! Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Rumah sudah siap dihuni,” kata si pembantu bangga.
“Baik. Nah, apakah kamu sendiri merasa puas dengan hasil karyamu ?” giliran sang majikan bertanya.
“Oh, ya tentu saja Tuan.”
“Baik, kalau begitu,” jawab sang majikan. “Ketahuilah, aku meyuruh kau membangun rumah ini untuk kenang-kenangan sekaligus penghargaan atas pengabdimu bekerja di sini bertahun-tahun.”

Mendengar ucapan sang majikan, terperanjatlah si pembantu. Perasaannya campur aduk. Ia merasa sangat malu, dan cemas. 
Betapa tidak ? Ia telah menghambur-hamburkan uang hasil korupsinya. Kini justru ia harus bertanggung jawab atas rumah yang selamanya akan mengingatkannya pada tindak korupsi yang mencoreng integritas dan pribadinya.

Benarlah kata seorang filsuf, cara terbaik untuk menentukan jenis karakter seseorang adalah dengan member kesempatan mereka menunjukkan tingkah laku mental dan moralnya saat mereka masih aktif dan benar-benar menikmati hidup. 
Karena pada saat itu pasti ada suara di dalam hatinya yang mengatakan, “Inilah saya yang sebenarnya.”