Selasa, 02 Oktober 2012

Melihat Karakter




Suatu siang sepasang pasutri turun dari KA di Boston, AS.
Yang perempuan mengenakan rok lusuh kedodoran. Suaminya berbalut pantaloon tenun yang sudah usang. Mereka bermaksud menemui rektor Harvard University di kota tersebut.
“Beliau sedang sibuk,” ujar sekretaris rektorat ketus.
“Kalau demikian kami akan menunggu,” jawab sang wanita.

Terganggu dengan kedatangan orang dusun tak diundang, sang sekretaris sengaja mendiamkan tamunya seraya berharap mereka akan putus asa dan pergi.
Ternyata tidak, pasutri itu sabar dan rela menunggu berjam-jam sampai akhirnya sekretaris terpaksa membujuk rektor agar menemui mereka.

Tamu perempuan memulai pembicaraan.
“Kami punya anak lelaki yang belajar di Harvard. Ia amat mencintai almamaternya. Bulan lalu ia meninggal karena kecelakaan. Kami bermaksud membuat semacam monument peringatan untuk anak kami tercinta di kampus ini.”

“Nyonya,” sergah rektor dengan gusar.
“Kami tidak bisa meluluskan permintaan Anda. Kalau setiap alumus Harvard meninggal dan patungnya dipajang, tempat ini akan seperti kuburan masal.”

“Maaf kami tidak bermaksud begitu. Kami hanya ingin menyumbang gedung untuk universitas ini.”
Mata sang rektor terbelalak. Sambil menatap pakaian tamunya yang lusuh, rektor menjawab. “Sudahkah Anda pikirkan berapa besar biayanya ? Untuk membangun sarana fisik kampus ini kami mengeluarkan lima juta dollar !”

Perempuan tersebut terdiam. Rektor tersenyum penuh kemenangan. Mana mungkin mereka punya uang sebanyak itu. Seraya melirik suaminya, perempuan itu berkata lirih, “Kalau biayanya hanya sebesar itu, kenapa kita tidak membangun universitas sendiri saja ?”
Suaminya mengangguk.
Akhirnya pasutri yang belakangan diketahui bernama Leland & Jane Standford tersebut berpamitan.

Sejarah mencatat tanggal 01 Oktober 1891 di Palo Alto, California, berdiri megah sebuah universitas yang menyandang nama mereka…. “STANDFORD  UNIVERSITY”, monument peringatan untuk putra mereka yang tidak dipedulikan di Harvard.

Dongeng di atas memang cuma “lelucon” belaka.



Moral of the story ……….
“Kita bisa menilai karakter orang dengan melihat cara mereka memperlakukan orang lain.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar